Lau Kawar 1


Dahulu kala, ada sebuah desa di tanah Karo kecamatan Naman Teran yang terletak di kaki gunung Sinabung bernama desa Kawar. Desa ini sangat subur & di kelilingi oleh pemandangan alam yang indah. Suatu hari, penduduk desa itu mengadakan suatu acara adat di puncak gunung Sinabung yang di sebut mejuah - juah sebagai bentuk rasa syukur karna hasil panen penduduk yang melimpah ruah. Semua penduduk desa menghadiri acara itu, tapi hanya ada seorang nenek yang tidak ikut datang ke acara tersebut. Nenek ini tidak sanggup untuk keluar menghadiri acara ada itu karena kondisi tubuhnya yang melemah. Si nenek rupanya menderita kelumpuhan. Nenek melihat ke arah jendelanya & ia terkejut ketika melihat anak lelakinya beserta keluarganya berjalan ke acara adat itu. 

Si nenek berharap bahwa anaknya akan mampir ke rumahnya & mengajaknya ke acara itu, walaupun menurut sumber lain, mereka tinggal serumah namun sang nenek memang tidak di ajak oleh anaknya. Namun, anak nenek beserta keluarganya tidak mampir & mereka terus berjalan menuju ke acara adat itu. Nenek merasa sedih & ia pun berbaring sambil menangis karena tidak ada yang memperhatikan dirinya. Sakit perutnya makin melilit karena di dera kelaparan yang sangat. Ia tak kuat. Dengan sisa tenaga yang ada padanya, ia mencoba turun dari ranjangnya. Tapi, ia kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh. Ia tersungkur ke lantai tanah, karna tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Ia mencoba merangkak. Perlahan & tertatih ia merangkak menuju ke dapur untuk melihat kalau ada yang bisa ia makan. Tapi, tak ada apa - apa. Rupanya, anak & menantunya hari itu sengaja tidak memasak. Ketika acara adat itu selesai, si anak baru ingat kepada neneknya. Ia pun meminta anaknya yang bernama Tongat untuk membungkus makanan agar di berikan kepada nenek. Sang nenek pun terkejut sekaligus senang ketika cucunya datang membawakan makanan. Tapi rasa senang itu tidak bertahan lama ketika sang nenek mengetahui bahwa isi bungkusan itu adalah sisa makanan dari acara adat. Sebetulnya, bungkusan tersebut berisi lauk daging yang masih utuh, termasuk di dalamnya babi panggang satu porsi & nasi yang cukup untuk si nenek. Tapi, di tengah jalan, si Tongat telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang. 

Namun, sumber lain menyatakan bahwa memang anaknya durhaka dengan sengaja memberikan sisa tulang untuk ibunya. Bahkan ada sumber yang menyatakan bahwa sesungguhnya si Tongat terjatuh di jalan & karna ia takut di marahi ibunya maka ia memungut makanan yang jatuh lalu memberikannya pada neneknya. Nenek itu pun memanjatkan doa kepada Tuhan. 

Namun, sumber lain menyatakan bahwa sang nenek marah & menampar cucunya. Ia berharap bahwa Tuhan membalas kedurhakaaan anaknya agar anaknya mendapat pelajaran. Beberapa hari kemudian terjadilah gempa bumi, petir menyambar ke tanah & hujan turun tak henti - henti. 

Bahkan ada sumber yang menyatakan bahwa bencana alam tersebut terjadi saat itu juga, tepat setelah sang nenek selesai berdoa. Hujan turun begitu deras sehingga dalam waktu sekejap desa Kawar sudah terendam & menjadi sebuah kawah. 

Walaupun menurut sumber lain, desa itu terendam oleh air mata si Tongat akibat di tampar sang nenek. Kawah itu yang kemudian di namakan sebagai danau Lau Kawar yang saat ini terletak di desa Kutagugung.

0 Response to "Lau Kawar 1"

Posting Komentar