Sejarah Perkotaan

PERKEMBANGAN KOTA SOLO

Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditujukan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Kota Solo adalah salah satu kota tua di Indonesia yang menyimpan berbagai peninggalan kebudayaan. Pada masa awal pembentukan kota Solo terdapat karakteristik yang menonjol dalam struktur Kota Solo, yaitu peralihan daerah perkotaan dan daerah pedesaan, yang begitu menyatu. Informasi tentang batas awal kota pada masa itu memang belum ada yang berakibat dari ketidak jelasan batas kota, sehingga kota Surakarta berkembang secara organis. Dua buah jalan yang cukup lebar, memanjang kearah Timur-Barat, membelah kota Surakarta menjadi belahan Selatan dan Utara. Istana (kraton), masjid Agung, dan rumah para pangeran, terletak di sebelah selatan kota. Bagian selatan dari belahan ini berkembang ke arah barat.
Solo sebagai salah satu kota yang pertumbuhannya sangat pesat, mengalami perkembangan di seluruh bidang kegiatan. Baik dalam bidang industri, jasa, permukiman, pendidikan, perdagangan maupun transportasi. Seiring dengan perkembangan wilayah perkotaan tersebut, maka terjadi alih fungsi lahan yang tadinya merupakan lahan pertanian yang tidak terbangun menjadi daerah terbangun. Saat ini, ruang Kota Solo selain dibentuk oleh bangunan-bangunan modern seperti kota-kota lainnya di Indonesia, maka secara arsitektural ruang kotanya masih mampu memperlihatkan bangunan-bangunan yang bercirikan era kerajaan Jawa dan era kolonial Belanda, dan beberapa yang etnik Cina, Arab dan Campuran.
Berdasarkan peta tata guna lahan, peta jaringan jalan dan peta sebaran penduduk miskin, nampak adanya gejala sentrifugal, ke arah barat Kota Solo, yang ditunjukkan dengan pola jaringan jalan yang menjari dan perkembangan kawasan permukiman di sisi utara ke arah barat dan timur. Persebaran penduduk miskin di kawasan sisi selatan Kota Solo, yang dekat dengan pusat kota yang berarti kawasan ini dihuni oleh sebagian besar oleh penduduk kelas rendah, disebabkan oleh daya tarik dari daerah pusat kegiatan yang memiliki daya tarik ekonomi yang kuat, bukan disebabkan oleh karena kawasan ini memiliki nilai sewa yang tinggi karena dekat dengan daerah pusat kegiatan, yang harusnya hanya mampu dijangkau oleh penduduk dengan kemampuan ekonomi yang tinggi.
Kota Solo lebih condong pada pola sektoral dibandingkan dengan pola konsentris ataupun multiple nuclei. Indikasi ini terlihat dengan hanya terdapat 1 daerah pusat kegiatan yang berfungsi sebagai growing point (Kawasan Gladag) dan struktur tata guna lahan yang membentuk fungsi-fungsi khusus. Struktur kota lebih digerakkan oleh elemen arah. Dari struktur kota terlihat struktur perdagangan modern mengikuti pola struktur jaringan jalan. Dengan pola struktur Kota Solo yang berbentuk sektor, yang cenderung digerakan oleh elemen arah daripada elemen jarak dan sebaran lokasi retail yang mengikuti pola jaringan jalan memberikan tingkat aksesibilitas yang tinggi untuk wilayah barat Kota Solo.
Karena bagi perdagangan modern aksesibilitas adalah mutlak. Faktor yang mempengaruhi lokasi perdagangan dengan analisis struktur kota berbasis tata guna lahan dan jaringan jalan. Dimana dari aspek tata guna lahan, sektor retail cenderung mengikuti elemen arah dan zona yang mensyaratkan derajat aksesibilitas yang tinggi (dari sini masih terlihat gabungan teori konsentris dan teori sektor), namun terlihat makin jelas dari analisis struktur jaringan jalan, dimana sebaran retail modern mengikuti struktur jaringan jalan, sedangkan struktur jaringan jalan di Kota Solo sendiri menunjukkan pola yang menjari ke arah barat Kota Solo.
 Jadi dapat digarisbawahi bahwa perkembangan Kota Solo berdasarkan pendekatan ekologis, kecenderungan teori lebih condong sektoral. Struktur kota cenderung mengikuti pola sektor, dibandingkan dengan pola konsentris ataupun multiple nuclei. Kecenderungan pola struktur ruang kota yang cenderung berpola sektor yang berkarakterisik yaitu terlihat dari adanya sebaran fungsi tata guna lahan yang tersebar secara acak dan sebagian fungsi perdagangan mengikuti jalur sistem jaringan jalan dan pola komunikasi, dibandingkan dengan pola yang dipengaruhi oleh jarak dari daerah pusat kegiatan. Jumlah daerah pusat kegiatan lebih ke arah unicentered pattern (1 daerah pusat kegiatan yang berfungsi sebagai center growing point).



Sumber :

Adityo Setyawarman, 2009.  Pola Sebaran dan Faktor-faktor  Yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Retail Modern (Studi Kasus Kota Surakarta).  Tesis.
Junianto. Pola Struktur Kota Surakarta Dalam Lingkup Pengaruh Pembangunan Masjid Agung Pada Masa Kerajaan Mataram Islam. ( http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/123456789/3545/9.%20Junianto%20%20UNMER.pdf?sequence=1, diakses pada Minggu  22 Juni 2014 )

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota

0 Response to "Sejarah Perkotaan"

Posting Komentar