Sejarah Kebudayaan

PEMAHAMAN FILOSOFIS TARI KLASIK GAYA YOGYAKARTA

A.      Sejarah Singkat Tari Klasik Gaya Yogyakarta
Tari klasik gaya Yogyakarta yang disebut juga Joged Mataram merupakan warisan dari kesenian tari pada zaman Mataram. Joged Mataram ini dikembangkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I semenjak perjanjian Giyanti. Sebelum itu Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang sebelum menjadi Sultan bergelar Pangeran Mangkubumi, dikenal sebagai seorang yang mencintai kesenian terutama seni tari. Oleh karena itu, semenjak perjuangannya melawan penjajah Belanda, Pangeran Mangkubumi sudah mengarahkan perhatiannya terhadap seni tari dengan orientasi semangat perjuangan kekesatriaan.
 Sri Susuhunan Paku Buwono III setelah Perjanjian Giyanti menganjurkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I supaya melanjutkan mengembangkan Joged Mataram. Karena di Surakarta Sri Susuhunan Paku Buwono III akan menciptakan corak gaya tari yang baru, maka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dibawanya beberapa guru tari terkemuka dari Surakarta yang dahulu melatihnya menari. Di Kesultanan Yogyakarta Joged Mataram ini kemudian semakin dikembangkan. Orientasi perjuangan kekesatriaan Sri Sultan Hamengku Buwono I membuat Joged Orientasi perjuangan kekesatriaan Sri Sultan Hamengku Buwono I membuat Joged Mataram mengekspresikan sikap kegagahberanian, kekesatriaan, dan kepahlawanan. Itulah sebabnya mengapa di dalam Joged Mataram yang kemudian dikenal sebagai tari klasik gaya Yogyakarta mempunyai karakteristik yang spesifik, yaitu lugas, kenceng (kuat) dan serius (bukan pernes).

B.       Pemahaman Filosofis Tari Klasik Gaya Yogyakarta
Tari klasik Yogyakarta yang sering disebut juga Joged Mataram memiliki landasan sikap dan gerak yang didasarkan pada orientasi menyatu, berkemauan kuat, berani dan ulet serta setia secara bertanggung jawab. Hakikat inilah yang kemudian disebut sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh. Oleh karena itu tari klasik gaya Yogyakarta tidak begitu mudah dihayati apabila penari ingin sampai pada pendalaman penjiwaannya. Ada dua hal yang sangat penting dan dipahami secara sungguh-sungguh agar dapat membawakan tari klasik gaya Yogyakarta secara sempurna, yaitu memahami landasan filosofis, serta karakternya kemudian menyempurnakan keterampilan teknik tarinya. Dalam teater modern teknik ini disebut inner dan outer action ( teknik dalam dan teknik luar ).
·         Sawiji
Sawiji adalah menyatukan kemauan dan sikap dengan seluruh kekuatan rohani dan pikiran ke arah suatu sasaran yang jelas, dalam hal ini adalah peran dan karakter peran yang dibawakannya. Laku ini dijalankan secara terus-menerus selama yang dikehendaki oleh peran tersebut. Seluruh perhatian terpusat pada peran yang dibawakan tanpa terpengaruh oleh apaun yang terjadi disekitarnya. Didalam teater modern laku ini disebut konsentrasi. Sasaran konsentrasi adalah peran dan karakternya.
Laku ini dijalankan secara intens dan terus-menerus tanpa boleh terganggu oleh hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan peran tersebut. Untuk dapat melakukan hal ini diperlukan ketahanan diri. Maka landasan filosofis yang pertama dari Joged Mataram ini dapat mengembangkan sikap yang menyatu karena kesatuan seluruh konsentrasi ini pada puncaknya akhirnya menyatukan seluruh rohani dan jasmani, kesatuan sikap lahir dan sukmanya, kesatuan kawula lan Gusti. Inilah pegangan spiritualitas pertama di dalam tari klasik gaya Yogyakarta.
Didalam pemahaman sawijiini tarian secara lahiriah juga merupakan suatu kesatuan dari gerak seluruh badan yang disesuaikan menurut irama musik yang mengiringinya dan  kesatuan dari karakter serta tuntutan peran yang dibawakannya. Kesatuan ini berada di dalam dimensi yang lebih dari sekedar gerak lahiriah tetapi dilandasi oleh spiritualitas atau semangat yang hidup didalam diri penari.
Sasaran konsentrasi dari penari adalah perannya. Untuk menghidupkan tokoh atau peran tersebut adalah dengan menyatukan diri pada karakter tokoh yang dibawakan. Ia harus mampu memusatkan seluruh tubuh, pikiran dan jiwanya pada perwujudan tokoh yang menerima kelahirannyaberkat seni dan memiliki sedalam-dalamnya perwatakan dari tokoh tersebut. Hal ini hanya mungkin apabila seorang penari sungguh mengenal tokoh yang dibawakannya.Untuk itu ia perlu observasi melalui pemahamannya pada cerita-cerita wayang, menonton pertunjukan wayang kulit, mencoba mengerti wanda(karakter) dari tokoh wayang yang kan dibawakannya. Observasi tersebut akan banyak membantu seorang penari mengolah sukma ciptaan yang kemudian dipersatukan dengan dirinya pada waktu penari mengolah sukma ciptaan yang kemudian dipersatukan dengan dirinya pada waktu penari memainkan tokoh tersebut. Apa yang dilakukan tersebut sekaligus dikerjakan dengan kesanggupan melepaskan diri dari hal-hal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan sasaran konsentrasinya itu. Pada tingkat kedalaman yang paling tinggi, sawiji ini merupakan suatu kesadaran akan kesatuan dengan Sang Maha Pencipta.
·         Greget
Greget adalah berkemauan yang kua. Semangat yang berkobar dan mendorong suatu dinamika didalam jiwa seorang penari. Kemauan yang kuat ini tidak boleh dilepas secara liar, tetapi harus dikendalikan untuk disalurkan secara wajar. Emosi-emosi yang keluar dari kemauan yag kuat tersebut tidak boleh muncul di dalam wujud yang kasar dan tidak beraturan, tetapi harus muncul dalam bentuk gerak dengan irama tertentu seperti yang dikehendaki oleh tokoh yang harus dibawakan.
Kemauan yang kuat merupakan pembawaan dari seorang penari. Maka dari itu, kemauan yang kuat ini tidak bisa diajarkan, melainkan harus didorong dan ditumbuhkan oleh si penari sendiri dengan latihan-latihan yang intensif. Seorang penari yang baik harus memiliki kemauan yang kuat atau semangat yang besar, sebab tanpa itu sukar untuk mengekspresikan karakter dari tokoh yang dibawakan secara kuat. Memerankan tokoh di dalam wayang, baru akan kelihatan ekspresif dan hidup ketika seorang penari mampu mendorong dengan gerak dalam jiwanya (inner action), misalnya dalam posisi duduk atau tancep.
Dalam tingkatan yang mendalam, kemauan yang kuat ini akan mengarah pada keseimbangan lahir batin. Ekspresi tubuh yang didorong oleh kemauan yang kuat akan dikendalikan sepenuhnya oleh sikap batin yang sudah menyatu dengan Sang Pencipta. Di dalam wujud lahiriah spiritualitas ini akan muncul sebagai kedisiplinan pribadi dan sikap pribadi yang sangat kuat. Spiritualitas yang dalam dan tingkat kemampuan yang dalam akan menghasilkan pengendalian diri yang dalam pula.
·         Sengguh
Secara harfiah sengguhberarti kebanggan pada diri sendiri. Di dalam hal ini sengguh dimaksudkan sebagai kepercayaan diri (self-confidence). Dalam wujud lahiriah muncul sebagai keberanian. Namun, keberanian tersebut bukan mengarah pada kesombongan, melainkan menumbuhkan sikap yang meyakinkan, pasti dan tidak ragu-ragu. Sikap tidak ragu-ragu dilandasi oleh kepercayaan diri ini muncul di dalam ekspresi gerak yang pasti juga.
Sengguh pada tingkatan yang dalam merupakan keyakinan akan kemampuan dari hakikatnya sebagai pencipta yang menghasilkan suatu karya seni yang terjadi berkat persatuannya dengan Sang Pencipta. Seringkali sengguh ditafsirkan sebagai kesombongan, sesungguhnya sengguh adalah perasaan kebanggaan yang lahir oleh kesadaran akan martabat, kehormatan sebagai tokoh (tokoh wayang yang dibawakan) yang lahir berkat seni.
·         Ora Mingkuh
Ora mingkuh berarti ulet dan setia secara bertanggung jawab. Tidak lari menghadapi kesulitan-kesulitan dan memenuhi apa yang sudah menjadi kesanggupannya dengan bertanggung jawab sepenuhnya. Suatu keteguhan hati dalam menghayati perang yang dibawakannya. Ulet betapapun untuk dapat membawakan peran tersebut diperlukan berbagai macam usaha baik jasmani (keterampilan tarinya), maupun rohani (pemahaman kejiwaannya). Keuletan ini berarti usaha yang terus-menerus, pantang mndur untuk menghadapi situasi yang bagaimanapun dengan pengorbanan apapun. Sikap ini sebenarnya merupakan endapan universal, dialami oleh para actor seni teater pada umumnya. Inilah sikap yang dituntut oleh seni apapun, lebih-lebih seni teater.
Memahami landasan filosofis dari Joged Mataram tidak begitu mudah untuk sampai pada kedalaman. Untuk itu seorang penari harus tetap rendah hati dan tidak mudah puas oleh pencapaian-pencapaiannya. Seorang penari yang sudah mampu menghayati landasan filosofis ini akan menari digerakkan oleh insting dan instuisinya, semua akan berjalan menurut pola, gerak dan penjiwaan yang seolah-olah telah terpatri di dalam jiwanya. Sehingga ketika ia menari berada di dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Terjadi kesatuan total antara dirinya dan karakter yang dibawakannya.

C.  Kesimpulan
Tari klasik gaya Yogyakarta yang hidup dan berkembang sejak zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I yang merupakan kesenian yang memiliki patokan atau aturan-aturan baku yang berlaku ketat. Tari klasik gaya Yogyakarta yang semula hanya sebagai legitimasi warisan budaya keraton Yogyakarta, sekarang ini telah berkembang dan diakui menjadi kekayaan warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan, dan dikembangkan. Tercatat ada beberapa Ndalem yang ada disekitar Kraton hingga saat ini. Tari klasik Yogyakarta memiliki landasan sikap dan gerak yang didasarkan pada orientasi menyatu, berkemauan kuat, berani dan ulet serta setia secara bertanggung jawab. Hakikat inilah yang kemudian disebut sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh.

Sumber :
Wibowo, Fred. 2002. Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya.


0 Response to "Sejarah Kebudayaan"

Posting Komentar